anggi
..
Entah, siapa nama lengkapnya. aku hanya ingat kami menyebutnya dengan nama depan, Anggi.
Dia seorang laki-laki bertubuh jangkung, dengan warna kulit terang, dan potongan rambut cepak.
Usianya 19 tahun pada saat itu, dan.. 21 tahun seandainya saat ini dia masih hidup.
..
Sebelumnya, aku ingin sedikit bercerita bahwa aku cukup sering menonton berbagai macam jenis film, tidak ketinggalan juga film tentang peperangan dari segala masa.
Dalam adegan-adegan yang tidak lepas dari darah, aku cukup mendapat beragam versi gambaran orang-orang yang menjelang ajalnya masih berupaya untuk mempertahankan nyawa demi hal apapun itu (tergantung filmnya)
Sebenarnya di film romance pun ada, apalagi film misteri, dll dst.. hehe cukup ya ngomongin filmnya .. Ini catatan pertama.
..
Catatan kedua yang mau aku ceritakan sebelum kita masuk ke materi adalah ..
(halah..bahasanya ;p) tentang pengalamanku selama bekerja di RS dan bergaul selama aku hidup sampai saat ini.
Bukan hal yang langka jika ending dari sebuah kisah bertema luka dan sakit parah atau usia senja, adalah kematian.
Sebagian dari pihak-pihak terkait tentu sudah ada persiapan mental juga ketika menghadapi gejala hal-hal yang tidak inginkan namun terkadang harus terjadi pada waktu yang tidak pernah kita bayangkan dan rencanakan.
Yang paling sering aku lihat menjelang ending dari seseorang adalah respon keluarga dan keheningan pasien itu sendiri (yang pada saat kita temui biasanya tidak kita sangka-sangka akan pergi, memang).
..
Namun sore itu aku mendapati kisah yang berbeda, ketika aku bertemu dengan Anggi.
..
suatu sore di RS tercinta, ruang sampling darurat, laboratorium.
aku menuju ruang sampling darurat di laborartorium. sesosok tubuh sudah menantiku di atas bed di ruas jalan ruang sampling darurat.
Dia terbaring miring, dan bernapas dengan berat..
Pemeriksaan darah lengkap dan pemeriksaan darah kimia, adalah permintaan pemeriksaan yang tertera dalam blanko, kiriman dari dokter IGD.
aku melihat infus sudah terpasang di tangan kirinya. ‘kenapa nggak sekalian diambil di IGD ya tadi’, pikirku saat itu.
Biasanya dalam sekali tusuk, pasien akan diambil darahnya dari vena untuk selanjutnya diganti dengan peralatan infus, jadi pasien hanya akan satu kali saja ditusuk.
Kemudian sample darah yang akan diperiksa dikirim ke laboratorium dengan diluncurkan dan atau ditembakkan melalui peralon aerocom.
“tadi nggak dapet mbak, darahnya nggak mau keluar” ucap perawat yang mengantar, tepat sekali menjawab pertanyaan yang bergaung di benakku
(mungkin gaungnya kenceng ya kok dia bisa sampe ikut denger…).
dan akhirnya aku merasakan apa yang baru saja dikatakan perawat tersebut. vena besar, terlihat dan teraba sangat jelas, namun darah tidak juga mau keluar, akhirnya dalam posisi tangan masih terikat tali pembendung (torniquette), aku sengaja mencabut jarum suntik dari tangannya, dan dari bekas tusukan tersebut tidak ada satu titik pun darah yang keluar..
mba Erna, seniorku, akhirnya turun tangan.
dia membendung tangan Anggi dalam waktu yang cukup lama, dan sesaat memukul-mukul tangan Anggi perlahan.
lalu mencoba kembali menusukkan jarum setelah sebelumnya dia mencoba sekali namun tidak juga memperoleh hasil.
..
saat itulah aku melihat Anggi yang sejak tadi terbaring miring dan masih bernapas dengan berat, berusaha keras mengepalkan tangannya, berupaya agar darah dalam tangannya terkumpul dan dapat diambil untuk pemeriksaan laboratorium.
..
usahanya sia-sia, karena tangannya tidak juga terkepal..
aku mulai menyadari betapa lemas dan tidak berdayanya dia.
namun saat itu rupanya tak berlangsung lama karena kemudian aku mendengar para perawat tertawa lega ketika mba Erna berhasil memperoleh darah, meskipun kurang dari 2 cc.
..
dari seorang teman lab yang ternyata juga mengenal Anggi, aku ketahui bahwa Anggi ternyata anak rantau yang tinggal di jogja bersama pakdenya.
sebulan yang lalu dia menjalani operasi usus buntu di RS XYZ, lalu pulang dan selama sebulan kondisinya tidak membaik.
meskipun tidak dapat makan dengan baik Anggi tetap tidak mau dibawa ke RS. hingga akhirnya sore itu Anggi dibawa ke RS tempat aku bekerja, setelah paginya dia meminta pakdenya untuk membawanya ke RS.
..
malam itu aku lega karena Anggi telah berada dalam perawatan di RS yang mantap itu.. dan terkhusus lega karena hasil darahnya tidak mengindikasikan sesuatu yang buruk, hanya menunjukkan sedikit peningkatan lekosit saja.
..
pagi harinya, karena penasaran, aku mencoba memantau riwayat hasil pemeriksaan Anggi dari komputer lab.
namun sebelum aku sempat mengetikkan nomor rekam medisnya, rekan lab yang juga adalah tetangga Anggi, memberi tahu aku bahwa Anggi telah ‘pulang’, tadi malam, tidak berselang lama setelah darahnya diambil di laboratorium.
..
speechless..
..
baru kemudian siang harinya aku menyesalkan keterlambatan mereka membawa Anggi ke RS, dan tindak lanjut yang entah bagaimana di RS sebelumnya.
aku tidak menuduh apapun pada pihak manapun, aku hanya menyesalkan mengapa hal semacam itu bisa terjadi, tanpa tahu pasti juga apa memang ada yang harus disesali dengan pantas.
karena aku sungguh-sungguh tidak tahu peristiwa yang melatar belakangi dan hal-hal yang mempengaruhi. aku bahkan tidak punya hak untuk menduga dan dasar untuk menganalisa, jadi aku cuma uring-uringan sendiri, dan sesaat melupakan, bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. dan bagi Anggi, itu adalah waktu baginya, sekalipun mungkin jika diizinkan memilih, itu bukanlah cara yang diinginkan, namun inilah yang terjadi.
..
sudah dua tahun berlalu sejak peristiwa itu. aku tidak mengingat bagaimana wajah Anggi.
namun terkadang masih terbayang bagaimana ekspresinya pada saat aku dan mba Erna berusaha mengambil darah dari vena tangannya.
..
aku masih ingat betul bagaimana dia berusaha mengepalkan tangan kanannya, membantu proses pengambilan darah.
dari situlah aku merasakan perjuangan dia untuk dapat hidup.
..
melebihi segala adegan berdarah yang aku lihat dalam film perang, ataupun upaya mengharu biru dari para keluarga pasien yang tidak rela melepas kepergian salah seorang anggota keluarga yang sudah tidak mampu lagi bertahan.
Anggi di hadapanku, terbaring lemah dengan napas berat, berusaha mengepalkan tangannya.
satu bentuk upaya mengepalkan tangan yang cukup sederhana tampaknya, namun menjadi gambaran nyata bagaimana seseorang berjuang untuk hidup..
..
betapa ini menyentakkanku..
seremeh temeh apapun tampaknya sesuatu hal, bisa menjadi amat berarti dalam tiap proses.
seringkali kita menyia-nyiakannya karena menanti segala dampak yang membahana.
mengabaikan denting kecil yang menyapa, masuk melalui pori-pori jiwa.
..
kisah Anggi dipakai Tuhan, menuntunku untuk berdiam dan merenungkan kembali mengapa Tuhan menaruhku pada profesi ini.
mengapa Dia ingin aku melayani pada bidang ini.
sungguhkah ini bagian yang dipecayakan padaku untuk aku kerjakan..
..
melalui sepenggal kisah di masa lalu ini aku belajar dari Anggi ketika dia berusaha mengepalkan tangannya di saat terakhir
yang ingin aku garis bawahi di sini, bukan tentang bagaimana kita mempertahankan nyawa yang merupakan hal fana dalam dunia.
bukan, bukan itu.
tapi tentang bagaimana hingga keseluruhan daya seakan tidak lagi bersisa, kita mau berusaha, berjuang, dan berproses di dalamnya.
bukan sekedar demi hidup kita, tapi juga demi hidup orang lain, dan sumber kehidupan itu sendiri, sang pemberi hidup yang hidup.
..
selamat jalan, Anggi. terimakasih..