Home > simple breath > pasien KLL

pasien KLL

akhirnya,, setelah sekian lama, aku berani juga hadapi pasien kecelakaan lalu lintas.

:)

senin, 25 April 2010, bersama personil handal malam itu, dokter Hendra, dokter Rosa, perawat bu Lena, perawat pak Pon, dan dokter Ardi.

:)

biasanya nih, kalo ada KLL, aku langsung ngumpet, kabur

(nb: karena memang tidak berkepentingan secara langsung juga, tidak berkompeten dan tidak berwenang)

dengan tampang cool pura-pura nggak tahu apa yang terjadi, dan atau aku tahu tapi nggak mau menangggapinya lalu menyibukkan diri sendiri.

belum pernah juga kebetulan aku kepepet harus menghadapi, kayak malam itu, statusnya sih terpaksa, tapi dampaknya sungguh di luar dugaanku.

hmm tunggu, sebelumnya aku ceritain dulu. kalo ada KLL di jalan dan aku pas di TKP nih, aku akan buru-buru kabur.

kenapa?

pertama, kalo aku nolong, nggak bisa juga kan, aku sendirian nggak akan mungkin bisa nolong.

satu-satunya cara yang efektif adalah aku ke tempat terdekat dan minta bantuan di sana. itu akan lebih membantu.

:)

alasan ke dua adalah, aku belum pernah berani…. baik di jalan maupun ketemu di RS pun, kalo ada KLL lututku langsung lemes, tangan dingin, gemetaran, nggak tahan pokoknya… aku nggak jijik dengan darah dan atau kotoran yang mungkin ada. hal-hal semacam itu udah biasa aku temui di lab dan di ruangan pasien saat kondisi tertentu.

yang bikin aku nggak tahan sebenernya adalah pasien itu sendri, yang pastinya mengerang kesakitan dan itu bener-bener bikin nular ke aku yang seakan jadi bisa ikut merasakan sakitnya.

ini agak berbeda dengan erangan pasien atau teriakan atau tangisan saat pasien diambil darahnya. kalo dalam hal ini aku udah biasa hadapi dan aku tahu betul bagaimana rasanya diambil darah. jadi nggak masalah lah…. Cuma sakit sedikit, bahkan melalui rasa sakit (saat diambil darahnya) inilah seorang pasien mendapat jalan dalam proses pemulihan, jadi kalau dalam hal ini aku nggak pernah khawatir, dan selalu melakukannya tidak dengan takut, bahkan percaya diri (jujur, ini aku pelajari saat di RS Bethesda hehe).

tapi kalo rasa sakit yang seperti luka aneh-aneh, kesakitan waktu mau melahirkan? aaahhhh aku nggak tahan, selalu kabur jauh-jauh.

bahkan jika pasiennya pingsan pun, untuk kll fresh aku tetep nggak berani hadapi, karena gambaran yang aku lihat seakan tertransfer ke otakku dan menerjemahkan ke tubuhku dengan bahasa rasa sakit, duuuhhh…

:)

oya, sebelumnya aku jelaskan juga yang aku maksud dengan kll fresh adalah, korban kecelakaan lalu lintas yang masih baruuuuu aja, dan belum dibersihkan diberesin, masih acak adul belepotan, berlumuran darah. karena kalo korban kll yang udah bersih, tinggal nunggu operasi misalnya, dan Cuma mengerang sedikit-sedikit, itu aku berani-berani aja hadapi, di bethesda sering kok…

:)

dari dulu udah mikir juga sih.. masak ya aku takut, padahal kan aku petugas rumah sakit juga.. mau sampai kapan begini?

wah ini nggak bisa dibiarkan, harus diubah ini, harus belajar berani, mind set’nya juga harus ditata ulang, tapi gimana caranya??

hmm…memang deh, Tuhan selalu punya cara, yang jauh melampaui apa yang diapat kita pikirkan dan bayangkan.

transformasi tengah terjadi hee…

:)

akhirnya malam itu dengan status kepepet bin terpaksa,aku hadapi juga pasien kll.

dengan kondisi yang aku sendiri juga bingung gimana jelasinnya, aku disuruh sampling buat cek darah lengkap. duuuuhhhh….

cklek,,

pintu IGD aku buka, daaan aku cuma berdiri terpaku agak lama di sana…

wuuzzz kayak di film-film aja ya,, lebay haha..

tapi memang begitulah kenyataannya. aku shocked… liat keadaan pasien dan temen2 IGD..dr Hendra n dr Rosa baru sibuk jahit tangan dibantu pak Pon, lalu bu Lena dibantu dr Ardi baru sibuk jahit kaki. intinya adalah, aku ambil darah dari vena di kaki.

dokter Ardi yang tepat di samping kiriku bantuin pegang kaki, n akhirnya dengan gemetaran berhasil juga aku ambil darahnya. horeeee… thanx God heheheh.

hasil yang udah jadi aku anter lagi ke IGD dan saat itulah tanpa ku sangka juga sebelumnya, aku menawarkan diri buat bantuin pegangin senter yang tadinya dipegangpak Pon buat menerangi bu Lena yang jahit bareng drArdi. hehehe..

ternyata nggak seseram yang dibayangkan ya.

:)

facing your giant nggak sekedar judul buku yang aku baca, tapi bener-bener bekal.

ternyata kalo kita bernani berusaha kalahkan rasa takut, Tuhan pasti mampukan kita untuk lalui kok, akhirnya yang terjadi nggak seseram yang dibayangin. memang, hantu itu bernama prasangka.

ini pernah aku alami juga waktu menyudahi perasaan aneh dengan seseorang yang ternyata sudah berpasangan. awalnya terasa sangat nggak mungkin, berat dan menyakitkan.

tapi bersyukur ketika masa terberat itu Tuhan menopang n memelukku, lalu ketika aku ambil komitmen kembali ke jalan yang bikin Tuhan berkenan dan senang, dan aku terapkan, ternyata tidak seberat yang dibayangkan. bahkan sangat lega rasanya.

:)

aku bersyukur buat pemeliharaan Tuhan sepanjang hidupku, dalam setiap proses aku bertumbuh dalam pengambilan keputusan.

Dia menuntun dan memimpinku ke jalanNya. dan aku bersyukur buat setiap pemangkasan yang Dia lakukan terhadap tiap hal dalam diriku yang tidak berkenan di hadapanNya, baik itu karakter, kebiasaan. meski pada saat dipangkas rasanya sakit, tapi itu sangat bermanfaat dan indah rasanya kemudian. berbuah bagi kemuliaan Tuhan.

:)

akhir kata, ada pesan sponsor nih ;)

hati-hati di jalan,

patuhi rambu-rambulalu lintas,

dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

:)

Thanks GOD..

Categories: simple breath
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.