Home > simple breath > melipat kertas

melipat kertas

Tuhan punya cara yang unik dalam menyapa kita n ngajak kita ngobrol. menyatakan pada kita apa yang menjadi kerinduan hatiNya..

Seringkali melalui hal-hal sederhana yang melampaui apa yang dapat kita pikirkan dan bayangkan.

..

melalui tulisan ini aku ingin sedikit berbagi tentang pengalaman bareng Tuhan.

tapiiiiiiiiiii… tulisan ini akan lumayan panjang (seperti rentetan huruf  “ i “ di depan hehe.) karena ini yang terjadi selama satu hari dan tidak ingin aku pecah dalam bagian tulisan yang berbeda.

tidak apa-apa yaa?? kalo cape baca, pejamkan mata 21 detik.. (bahasa gaulnya, “merem”); kalo males baca, doa dulu :p hehe.

makasih sebelumnya. selamat.. membaca   :)    Tuhan Yesus beserta kita.

..

[ 03.06.2011 ]

pagi itu aku main ke GG (Gloria Grha), tepatnya bertengger di lantai 3, di rumah kambium katalis.. untuk beberapa keperluan.

Setelah urusan yang aku maksud selesai, sekitar pukul 10.00 waa (waktu arloji andin :p); aku diajak mas Anto melipat kertas!

..

Ada banyak rencana untuk hari itu sebenarnya.

Setelah sempat bimbang pada awalnya, akhirnya aku duduk bersila di pojok perpustakaan lantai 3, tanpa rasa terpaksa, melipat kertas, sendiri .. -mmm sebenarnya banyak yang menemani, cuma masing-masing sibuk dengan urusan kerjaannya sendiri.

Kertas yang aku lipat adalah brosur-brosur katalis..

tunggu, tahu kan apa itu katalis? itu lhoo… komunitas yang diadakan oleh yayasan Gloria, yang hadir untuk memperlengkapi para pelayan melalui literatur. (hmmmm lebih tepat, rinci, dan jelasnya tanya GG aja hehehe, atau di FB ini juga  ada grupnya kok :) … ).

..

aku melipat brosur-brosur itu satu per satu, dengan cara yang udah diajarkan mas Anto sebelumnya.

Kertas berukuran 40 X 29,5 cm  (..di rumah aku ukur beneran lhooo…), yang sebelumnya telah dilipat menjadi dua bagian sama besar, dilipat kembali dua kali dengan bentuk lipatan yang agak berbeda, yang memungkinkan brosur tersebut terlipat menjadi seukuran dengan buku renungan, dan pesan utama yang mau disampaikaan dapat langsung ditangkap dalam sekali pandang wuzzzz :p

..

Awalnya, ketika melipat kertas bersama dengan Franky Sihombing, Bobby One Way, dan Life Three (tenang.. Cuma musiknya dari hapeku :p ), aku ikutan keluarkan suara lirih dengan nada yang sama (bahasa gampangnya adalah ikut: nyanyiin lagu pujian yang aku putar..),

sambil kadang-kadang pas diem jeda mikir-mikir..

‘ntar jadi nggak ya ke sana, jadi beli yang itu atau itu, ketemu jam berapa, abis dari sana terus aku ke sana, besok jadi enggak melancarkan jurus itu, n… bla bla bla dst dll dsb..’

Tapi beberapa waktu kemudian, aku mendengar suara kak Johan (Johan Setiawan) yang  baru berbicara dengan seseorang di telepon. TKP: sekitar 3-4 meter dari tempat aku melipat kertas.

..n aku mendadak diingatkan satu bagian yang disampaikan kak Johan ketika membawakan materi ‘arah pertumbuhan’, dalam kelas bertumbuh kambium.

(hmmm… yang aku inget ini bukan pas materi angkatanku, tapi yang rekaman video saat kak Johan bawakan di angkatan lain, yang rekamannya ada di rumahku hehehe, yang mau pinjem boleh kok..)

Dalam rekaman itu, di salah satu bagiannya (bukan keseluruhan materi yang dibwakannya lho..)

kak Johan mengingatkan tentang doa yang menjadi gaya hidup kita.

contoh simple, bagaimana ketika kita mengantri kasir di minimarket, misalnya, kita mendoakan orang-orang yang ada di sekitar kita, di tempat itu, dalam hidup kita.

Doa kita naikkan sedemikian dalam setiap hal yang kita lakukan. ngobrol bareng Tuhan..

(hmmmm lupa kalimat tepatnya kak Johan gimana, intinya kurang lebih gitu kira-kira hehehe).

n waktu itu aku juga diingatkan dengan hal serupa, melalui Rick Warren, yang dalam bukunya berjudul The Purpose Driven Life (singkatan gaulnya adalah PDL hehe.. dapatkan di GG dan atau di toko-toko buku terdekat di kota Anda! :p), tepatnya di halaman 12  (kalo terbitan Gandum Mas), menyatakan bahwa ketika dia menulis buku itu, dia berdoa bagi kita (pembaca PDL) agar kita mengalami perasaan yang penuh harapan, energi, dan sukacita yang luar biasa karena kita menemukan maksud Allah menempatkan kita di planet ini..   hmmm..  :)

..

Detik itu aku tidak sedang menulis, tidak sedang menyanyi, tidak sedang berbicara dengan orang lain.

Detik itu aku sedang melipat kertas.

Jika aku sedang melakukan hal lain, mungkin aku akan berproses dalam perenungan yang berbeda pula.

Namun, ingat tadi, aku sedang melipat kertas.

Brosur-brosur yang akan dibagikan pada sekian banyak orang, yang tentunya sama sekali tidak aku kenal.

Tuhan menuntunku pada ingatan-ingatan tadi dan membawaku pada satu bagian yang sedang kukerjakan sekarang.

Dia mengalihkan perhatian dan pikiranku yang sibuk plus bingung dengan rencana-rencanaku tadi, dan meletakkanku dalam satu kesadaran yang begitu penting, tentang bagian sederhana namun bermakna, yang telah Tuhan percayakan untuk aku kerjakan.

..

Franky Sihombing, Bobby One Way, dan Life Three masih menemaniku, tapi aku tidak lagi menjadi backing vocal mereka :p

Kesempatan berikutnya aku menikmati, Tuhan izinkan aku ngobrol bareng Dia tentang orang-orang yang tidak aku kenal, yang nanti akan menerima brosur-brosur yang telah terlipat.

 

. . hari ini aku melipat kertas bersama Tuhan   :)

Eits, tunggu! Kisahnya belum selesai. Sepertinya Tuhan nggak izinkan aku ngobrol lama-lama bareng Tuhan di situ hehe (perpustakaan lt 3).

Beberapa waktu kemudian, karena tempat aku bertapa itu, mau dipakai untuk rapat. aku pindahin brosur-brosur itu baik yang sudah terlipat maupun yang belum, ke dalam ruang katalis.. dibantu oleh mas Nandar (yang wajahnya  miriiiipp banget dengan foto model yang ada di brosur yang aku lipat-lipat tadi :p :D )

nah, di pertengahan pindahan itu, seorang rekan pertumbuhan dan pelayananku, Ani, sampai di lantai 3 buat ambil buku PDL..lalu pulang lagi. (btw, melalui buku PDL ini Tuhan mempererat persekutuan di antara kami, dan memperlengkapi kami dalam pelayanan.)

Jika ini adalah film, kejadian bareng Ani ini terasa singkat banget.. dan dia seakan hanya pemain figuran. namun jauh di balik apa yang nampak, proses menuju satu titik perjumpaanku dengan Ani kemarin adalah perjalanan yang banyak rintangan dan panjang. dan kisah yang akan bergulir jauh di depan kami juga tidak akan lepas dari satu titik peristiwa sederhana saat itu.

..

Dalam film kehidupan ini aku percaya tidak ada yang namanya figuran mutlak bagi anak-anak Tuhan. yang tampak sebagai figuran pun bisa dipakai Tuhan sedemikian rupa buat mewujudkan rencanaNya. sekecil apapun peran kita, demi kemuliaan nama Tuhan, mari kerjakan bagian yang telah, sedang dan akan dipercayakan pada kita dengan taat dan setia. n met berproses di dalamnya, bersama Tuhan.

..

Di dalam ruang katalis, aktivitas melipat kertas aku lanjutkan, tanpa ditemani oleh Franky Sihombing, Bobby One Way, dan Life Three lagi.. ;)

Sebagai gantinya, sambil terus melipat kertas, aku dengar musik perkusi alami yang berupa suara orang-orang yang gedebak gedebuk mempersiapkan tempat dan diri untuk rapat heheheh….

jreeenng.. (suara gitar.. kali ini beneran. bukan, itu bukan pengganti bell tanda rapat mau dimulai, tapi mau praise n worship dulu sebelum rapat. waahh enaknya..  di tempat kerjaku mana ada.. :(

‘satu hal yang ku rindukan ya Tuhan.. selalu berada di dekatMu

dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, ku menanti di hadiratMU’

(yup.. kita tahu ini lagu pujian dengan judul asli “Deeper in Love” yang awalnya dipopulerkan Robert n Lea yang kayaknya.. nah yang dinaikkan pas rapat itu versi Indonesianya)

setelah bait diulang, mereka masuk ke refrain.

“lebih dalam lagi ku rindu Kau Tuhan, lebih dari segala yang ada.

lebih dalam lagi, ku cinta Kau Yesus, ku mengasihiMu”

waaaaa  T__T  jlep jlep jlep . .

sembari melipat kertas sendiri.. (di dalem ruang kecil tapi nyaman diterangi lampu, n denger pujian buat Tuhan dinaikkan di balik pintu koboi kayu :p n dipenuhi dengan perasaan yang campur aduk) rasanya pengen nangis.. hehe enggak ding.

gimana ya rasanya, pokoknya speechless aja J

selanjutnya aku cuma diem (tapi tangannya tetep gerak lipat-lipat kertas..).

yang aku maksud diam di sini adalah nggak nyanyi, no bisik-bisik, tanpa komat-kamit, dan pikiranku saat itu pun rasanya beku ringan sementara, hatiku cuti mendadak.. hening banget . .

..

-diperlengkapi-

selama beberapa detik kemudian aku fokus pada satu kosa kata tersebut, yang menjadi penanda batas lipatan kertas yang ditentukan mas Anto tadi.

-diperlengkapi-

entah sudah berapa kata “diperlengkapi” aku baca. mungkin sebanyak aku melipat kertas saat itu. tetapi jujur saja tidak setiap waktu aku memperhatikan dan meresapi benar makna kata tersebut. Cuma mampir di mata, nggak nancep di hati.

-diperlengkapi-

sebenarnya kalimat utuhnya adalah .. “diperlengkapi untuk melayani”

“seorang pekerja harus diperlengkapi untuk dapat mengerjakan tugasnya, bukan saja dengan baik, namun juga efektif.”

(itu yang tertulis di brosur katalis hehehehe..)

‘ooo..iya… ini untuk memperlengkapi para pelayan gitu hehe.. berarti aku juga, karena aku baru melipat kertas di bagian kata ‘diperlengkapi’ ;) ‘ pikirku geli waktu itu.

tapi kemudian aku terhenyak ketika mendapati kenyataan bahwa sesungguhnya Tuhan memang sedang memperlengkapi aku.

Yang bikin aku shocked ringan adalah, tadinya aku bener-bener dengan geli bercanda menanggapi fakta bahwa aku membaca kosa kata ‘diperlengkapi’ berulang-ulang, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan ingin menekankan satu kata tersebut untukku.

dan bukankah itu juga yang ingin disampaikan kakak-kakak katalis (atas karunia Tuhan) kepada orang-orang yang menerima brosur itu?

..

selanjutnya dalam masa hening itu, aku merasa Tuhan meneguhkanku dalam beberapa hal dan memangkas cukup banyak rencana yang aku buat pada hari itu dan beberapa rencana besar hari-hari ke depan, serta mengkoreksi beberapa pilihan. Bahkan ada beberapa hal mendesak yang selama dua hari ini aku doakan secara khusus, (aku berdiam mendengarkan, namun belum memperolah jawaban) dan Tuhan tuntun aku buat mengerti pada saat itu.

Tuhan bener-bener luar biasa. punya cara tersendiri buat menjawab doaku, menegurku, menguatkanku. ..     :’)   ..    <hmmm… andai ada emoticon yang mengartikan kita nangis terharu sambil senyum, pengen aku cantumin di akhir paragraph ini hehe :p>

*hari itu Tuhan berbicara padaku melalui kertas-kertas yang aku lipat   :)

kejutan berikutnya datang ketika aku masih melipat kertas.

Zadok Elia datang untuk the fight.. <???>

hehe, maksudnya, dia datang mencari mas Anto untuk bla bla bla yang berkaitan dengan buku yang….,  waktu itu aku belum tahu apa judulnya..n siapa penulisnya.

ketika akhirnya mereka berjumpa, pada satu waktu aku melihat mereka berdiri berhadapan, saling bertukar buku yang sama, yang cover masing-masing buku tersebut menghadap ke arahku

‘The Fight’

gleeerr… (boleh bayangin suara petir, eh jangan .. mungkin suara bell atau lonceng aja yang lembut dikit.. tapi kenyataannya waktu itu –jika boleh digambarkan mirip di komik, ya gambarannya suaranya cukup membahana, gitu, hee..)

bukan kaget karena geli tapi karena bener-bener pose mereka berdua (yang kemudian dibikin agak lebay karena ditambah dengan jabat tangan segala) menggambarkan satu bentuk kehidupan nyata dalam iman Kristen kita.

seperti saudara yang saling meneguhkan dan menguatkan ketika bersama berjuang dalam pertempuran. kemenangan dan sukacita dalam kehidupan kristiani, yang dicapai juga melalui perjuangan iman.(mulai kutip kalimat dalam buku ‘the Fight’ nih hehe)

ditambah kemudian Zadok sedikiiiiitt berbicara tentang PI di kalangan mahasiswa yang sedang gencar..

nah, tentang PI tersebut, beberapa waktu ini Tuhan mengajakku memandang dan menghadapi suatu masalah dari sisi yang berbeda.

seperti yang juga pernah disampaikan seorang penyiar Josep Pradita dalam siaran malamnya ‘worship line’ di 90.3 Sasanso Fm, bahwa doa mengubah segala sesuatu; ketika memang mungkin pada saat ini bukan sesuatu hal yang sedang kita hadapi yang Tuhan ubah, mungkin cara kita memandang sesuatu itulah yang akan diubahkan.

tentang PI, bersyukur Tuhan mengizinkanku mengalami persoalan yang kalo dipikir nalar lagi.. wah udah nggak ada harapan deh..  semua upaya yang sanggup aku lakukan tidak mampu menyelamatkan situasi n kondisi.  Rasanya sepanjang waktu itu Tuhan sengaja bongkar aku untuk membentuk aku kembali.  sempat diberi Tuhan kado yang berupa reruntuhan tembokku sendiri,  dan dikosongkan. namun semua itu mengingatkanku akan Tuhan yang berdaulat dan penuh kasih.

dalam setiap keterpurukan itulah aku belajar mempercayai Tuhan, dan setiap hal yang aku rasakan membawaku menuju titik keberserahan penuh  pada Dia.

*siang itu, setiap harapan aku akui dan serahkan di hadapan Tuhan;

dan seperti ketika aku melipat kertas-kertas ini,  aku sedang melipat harapan.

oya, beberapa menit kemudian datanglah mas Christian yang segera duduk n melipat kertas-kertas juga.. dan Zadok yang masih menunggu sesuatu, ikut duduk dan bantu lipat-lipat. hehe. jadilah acara hari itu melipat kertas bersama. hehe..

.. mungkin mereka juga sedang melipat doa, melipat harapan.

atau bahkan mungkin mereka menemukan titik makna yang berbeda dari hal itu, karena aku percaya Tuhan berbicara dengan setiap kita melalui cara yang berbeda-beda, sesuai kebutuhan kita, seperti yang Tuhan kehendaki buat Dia sampaikan, demi kemulianNya.

bersiaplah dan selamat menikmati setiap detik pengalaman bareng Tuhan Yesus yang hidup.

*bersyukur buat acara melipat kertas bareng Tuhan Yesus hari itu   :)

 

..

hmm.. sedikit tambahan..

pulang dari GG, rasanmya pengen bangeeettt langsung pulang dan nulis ini semua, tapi beberapa keperluan lain di luar harus segera aku selesaikan. termasuk janjiku pada Ani buat pergi bareng ke konser kolaborasi musik orkestra, ansamble, choir, dance, modern n etnik.. di auditorium musik ISI.

dari kemariiinnn sebenernya sudah nggak sabar nonton konser ini. tapi serangkaian kejadian hari ini membuat keinginanku sebelumnya terkikis sekitar mungkin 30%..  :p  :)

tapi karena sudah janji, ya akhirnya aku berangkat, bareng Ani.

bersyukur banget akhirnya tetep berangkat hehehe.. enggak nyesel pokoknya. konsernya keren bangett… keseluruhannya enggak sanggup aku tuliskan di sini, dan ini bukan yang mau aku bagikan, tapi tentang satu kejadian sederhana yang tanpa aku duga, lagi, Tuhan jadikan kejutan manis sesampainya aku dan Ani di sana.

sekitar pukul 18.30 waa, setelah beberapa saat muter-muter, akhirnya aku parkir motorku, beberapa meter dari pintu auditorium musik ISI.

beberapa pemain konser lain aku lihat duduk-duduk aja, di ruang dalam.

tapi ada satu ruang cukup terang, yang di dalamnya aku lihat seorang pemain.. violin (diiringi piano) sedang pemanasan mungkin ya…  (nah.. sekarang ayok kita sama-sama bayangin suara violin..)

lagu yang dia mainkan saat itu, “hatiku percaya”

itu lho, yang liriknya:

“saat ku tak melihat jalanMu, saat ku tak mengerti rencanaMu.

namun tetap ku pegang janjiMu, pengharapanku hanya padaMu.

hatiku percaya, hatiku percaya, hatiku percaya, selalu ku percaya”

 

permainannya…. (menurutku, yang buta musik ini) bagus bangeett..

(jadi inget permainan violinnya bang Erwin Hotma Pangihutan Pardede, seorang kakak+guru+sahabat, yang sekarang melayani di Simalungun)

permainan violin yang aku denger malam itu, jernih, dan enggak lebay. sejuk.. n simple tapi dalem.

apalagi.. kok pas banget bawain lagu itu duuhh… liriknya itu lho.. (silakan baca sendiri lirik lagu di atas tadi, aku enggak sanggup nerusin tulisan ini… T__T )   … :p  hehe, *serius*

rasanya pengen banget rekam audio saat itu juga. tapi aku tahu hasilnya pasti enggak akan bersih dan.. lagi pula belum minta izin hehe..

jadi akhirnya aku menikmati instrumen itu sambil mengucapkan (bukan menyanyikan) liriknya dalam hati.

oya, selesai maen lagu itu, sang pemain lanjut dengan pujian lain yang judulnya juga “hatiku percaya” tapi yang up beat itu lho.. beda dengan yang tadi lagunya.

yang pertama kali dipopulerkan sesaat sebelum gempa jogja (dan ternyata salah satu tujuan yang diusung penyelenggara konser malam itu ternyata refleksi gempa jogja beberapa tahun silam.  wuaaahh aku juga suka banget yang ini, sebenernya suka karena 2 kata tadi “hatiku percaya”) thanks banget mas Borist Sirait..! :)

beberapa jam kemudian aku tahu dia memainkan lagu ‘hatiku percaya’ karena baru ‘kangen dengan lagu itu’.

kerinduan dan penyembahan yang dia naikkan melalui permainan violin malam itu, ditunjukkan Tuhan padaku untuk membahasakan kerinduanku yang sebelumnya sudah kuperbincangkan bareng Tuhan selama melipat kertas di siang hari.

..

Tuhan sanggup memakai setiap kegelisahan hati untuk menjawab pergumulan orang lain. kerinduan terdalam dapat Tuhan ubah menjadi energi yang kuat. suka cita dan damai sejahtera yang bersumber dari Tuhan mampu Tuhan bagikan sebagai spirit bagi orang lain. pertanyaannya tinggal, apakah kita mau, melalui setiap bagian dalam keseluruhan kehidupan kita, Tuhan pakai buat memuliakan Dia?

..

bersyukur

pagi, Tuhan menyatakan kerinduan hatiNya padaku melalui kertas-kertas yang aku lipat.

n malam, Tuhan membahasakan kerinduanku padaNya melalui instrumen violin aku dengar.

..

selamat hidup, berproses.

God bless u.

terimakasih.. :)

05.06.2011

-ndn-

Categories: simple breath
  1. June 8, 2011 at 7:19 am | #1

    wew… luar biasa… cuma bisa bilang itu… hehe…

    • ndn
      June 9, 2011 at 7:31 am | #2

      iya mbak… Tuhan luaaaaarrr biasaa.. !! thanx dah baca ;)
      (jadi inget pas Tuhan menyapamu waktu gondongen melalui pasien anak yang gondongen n perixa ke IGD hehe.)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.