andinot

July 3, 2011 Leave a comment

ini akan menjadi posting terakhirku di blog andiness.

aku ingin mengakhiri zona keandinan.

terimakasih buat setiap keterlibatan, respon, jejak dalam blog ini,

dan maaf jika ada kesalahan serta hal-hal yang kurang berkenan.

berikutnya kebersamaan kita tetep lanjut yaa…

di blog andinot.

yang melalui nama blog tersebut aku ingin menegaskan bahwa “semua ini bukan tentang andin”.

blog – blog lamaku tidak ada yang akan aku hapus, agar menjadi catatan perjalanan, tapak proses pembelajaran.

gentandiron21.blogspot.com

agstophier.wordpress.com

andiness.wordpress.com

semua itu adalah blogku dulu. masa lalu.

selamat tinggal..

dan sampai jumpa

aku menantimu.. di

andinot.wordpress.com

Tuhan beserta kita.

terimakasih 🙂

-ndn-

Advertisements
Categories: simple breath

melipat kertas

June 5, 2011 2 comments

Tuhan punya cara yang unik dalam menyapa kita n ngajak kita ngobrol. menyatakan pada kita apa yang menjadi kerinduan hatiNya..

Seringkali melalui hal-hal sederhana yang melampaui apa yang dapat kita pikirkan dan bayangkan.

..

melalui tulisan ini aku ingin sedikit berbagi tentang pengalaman bareng Tuhan.

tapiiiiiiiiiii… tulisan ini akan lumayan panjang (seperti rentetan huruf  “ i “ di depan hehe.) karena ini yang terjadi selama satu hari dan tidak ingin aku pecah dalam bagian tulisan yang berbeda.

tidak apa-apa yaa?? kalo cape baca, pejamkan mata 21 detik.. (bahasa gaulnya, “merem”); kalo males baca, doa dulu :p hehe.

makasih sebelumnya. selamat.. membaca   🙂    Tuhan Yesus beserta kita.

..

[ 03.06.2011 ]

pagi itu aku main ke GG (Gloria Grha), tepatnya bertengger di lantai 3, di rumah kambium katalis.. untuk beberapa keperluan.

Setelah urusan yang aku maksud selesai, sekitar pukul 10.00 waa (waktu arloji andin :p); aku diajak mas Anto melipat kertas!

..

Ada banyak rencana untuk hari itu sebenarnya.

Setelah sempat bimbang pada awalnya, akhirnya aku duduk bersila di pojok perpustakaan lantai 3, tanpa rasa terpaksa, melipat kertas, sendiri .. -mmm sebenarnya banyak yang menemani, cuma masing-masing sibuk dengan urusan kerjaannya sendiri.

Kertas yang aku lipat adalah brosur-brosur katalis..

tunggu, tahu kan apa itu katalis? itu lhoo… komunitas yang diadakan oleh yayasan Gloria, yang hadir untuk memperlengkapi para pelayan melalui literatur. (hmmmm lebih tepat, rinci, dan jelasnya tanya GG aja hehehe, atau di FB ini juga  ada grupnya kok 🙂 … ).

..

aku melipat brosur-brosur itu satu per satu, dengan cara yang udah diajarkan mas Anto sebelumnya.

Kertas berukuran 40 X 29,5 cm  (..di rumah aku ukur beneran lhooo…), yang sebelumnya telah dilipat menjadi dua bagian sama besar, dilipat kembali dua kali dengan bentuk lipatan yang agak berbeda, yang memungkinkan brosur tersebut terlipat menjadi seukuran dengan buku renungan, dan pesan utama yang mau disampaikaan dapat langsung ditangkap dalam sekali pandang wuzzzz :p

..

Awalnya, ketika melipat kertas bersama dengan Franky Sihombing, Bobby One Way, dan Life Three (tenang.. Cuma musiknya dari hapeku :p ), aku ikutan keluarkan suara lirih dengan nada yang sama (bahasa gampangnya adalah ikut: nyanyiin lagu pujian yang aku putar..),

sambil kadang-kadang pas diem jeda mikir-mikir..

‘ntar jadi nggak ya ke sana, jadi beli yang itu atau itu, ketemu jam berapa, abis dari sana terus aku ke sana, besok jadi enggak melancarkan jurus itu, n… bla bla bla dst dll dsb..’

Tapi beberapa waktu kemudian, aku mendengar suara kak Johan (Johan Setiawan) yang  baru berbicara dengan seseorang di telepon. TKP: sekitar 3-4 meter dari tempat aku melipat kertas.

..n aku mendadak diingatkan satu bagian yang disampaikan kak Johan ketika membawakan materi ‘arah pertumbuhan’, dalam kelas bertumbuh kambium.

(hmmm… yang aku inget ini bukan pas materi angkatanku, tapi yang rekaman video saat kak Johan bawakan di angkatan lain, yang rekamannya ada di rumahku hehehe, yang mau pinjem boleh kok..)

Dalam rekaman itu, di salah satu bagiannya (bukan keseluruhan materi yang dibwakannya lho..)

kak Johan mengingatkan tentang doa yang menjadi gaya hidup kita.

contoh simple, bagaimana ketika kita mengantri kasir di minimarket, misalnya, kita mendoakan orang-orang yang ada di sekitar kita, di tempat itu, dalam hidup kita.

Doa kita naikkan sedemikian dalam setiap hal yang kita lakukan. ngobrol bareng Tuhan..

(hmmmm lupa kalimat tepatnya kak Johan gimana, intinya kurang lebih gitu kira-kira hehehe).

n waktu itu aku juga diingatkan dengan hal serupa, melalui Rick Warren, yang dalam bukunya berjudul The Purpose Driven Life (singkatan gaulnya adalah PDL hehe.. dapatkan di GG dan atau di toko-toko buku terdekat di kota Anda! :p), tepatnya di halaman 12  (kalo terbitan Gandum Mas), menyatakan bahwa ketika dia menulis buku itu, dia berdoa bagi kita (pembaca PDL) agar kita mengalami perasaan yang penuh harapan, energi, dan sukacita yang luar biasa karena kita menemukan maksud Allah menempatkan kita di planet ini..   hmmm..  🙂

..

Detik itu aku tidak sedang menulis, tidak sedang menyanyi, tidak sedang berbicara dengan orang lain.

Detik itu aku sedang melipat kertas.

Jika aku sedang melakukan hal lain, mungkin aku akan berproses dalam perenungan yang berbeda pula.

Namun, ingat tadi, aku sedang melipat kertas.

Brosur-brosur yang akan dibagikan pada sekian banyak orang, yang tentunya sama sekali tidak aku kenal.

Tuhan menuntunku pada ingatan-ingatan tadi dan membawaku pada satu bagian yang sedang kukerjakan sekarang.

Dia mengalihkan perhatian dan pikiranku yang sibuk plus bingung dengan rencana-rencanaku tadi, dan meletakkanku dalam satu kesadaran yang begitu penting, tentang bagian sederhana namun bermakna, yang telah Tuhan percayakan untuk aku kerjakan.

..

Franky Sihombing, Bobby One Way, dan Life Three masih menemaniku, tapi aku tidak lagi menjadi backing vocal mereka :p

Kesempatan berikutnya aku menikmati, Tuhan izinkan aku ngobrol bareng Dia tentang orang-orang yang tidak aku kenal, yang nanti akan menerima brosur-brosur yang telah terlipat.

 

. . hari ini aku melipat kertas bersama Tuhan   🙂

Eits, tunggu! Kisahnya belum selesai. Sepertinya Tuhan nggak izinkan aku ngobrol lama-lama bareng Tuhan di situ hehe (perpustakaan lt 3).

Beberapa waktu kemudian, karena tempat aku bertapa itu, mau dipakai untuk rapat. aku pindahin brosur-brosur itu baik yang sudah terlipat maupun yang belum, ke dalam ruang katalis.. dibantu oleh mas Nandar (yang wajahnya  miriiiipp banget dengan foto model yang ada di brosur yang aku lipat-lipat tadi :p 😀 )

nah, di pertengahan pindahan itu, seorang rekan pertumbuhan dan pelayananku, Ani, sampai di lantai 3 buat ambil buku PDL..lalu pulang lagi. (btw, melalui buku PDL ini Tuhan mempererat persekutuan di antara kami, dan memperlengkapi kami dalam pelayanan.)

Jika ini adalah film, kejadian bareng Ani ini terasa singkat banget.. dan dia seakan hanya pemain figuran. namun jauh di balik apa yang nampak, proses menuju satu titik perjumpaanku dengan Ani kemarin adalah perjalanan yang banyak rintangan dan panjang. dan kisah yang akan bergulir jauh di depan kami juga tidak akan lepas dari satu titik peristiwa sederhana saat itu.

..

Dalam film kehidupan ini aku percaya tidak ada yang namanya figuran mutlak bagi anak-anak Tuhan. yang tampak sebagai figuran pun bisa dipakai Tuhan sedemikian rupa buat mewujudkan rencanaNya. sekecil apapun peran kita, demi kemuliaan nama Tuhan, mari kerjakan bagian yang telah, sedang dan akan dipercayakan pada kita dengan taat dan setia. n met berproses di dalamnya, bersama Tuhan.

..

Di dalam ruang katalis, aktivitas melipat kertas aku lanjutkan, tanpa ditemani oleh Franky Sihombing, Bobby One Way, dan Life Three lagi.. 😉

Sebagai gantinya, sambil terus melipat kertas, aku dengar musik perkusi alami yang berupa suara orang-orang yang gedebak gedebuk mempersiapkan tempat dan diri untuk rapat heheheh….

jreeenng.. (suara gitar.. kali ini beneran. bukan, itu bukan pengganti bell tanda rapat mau dimulai, tapi mau praise n worship dulu sebelum rapat. waahh enaknya..  di tempat kerjaku mana ada.. 😦

‘satu hal yang ku rindukan ya Tuhan.. selalu berada di dekatMu

dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, ku menanti di hadiratMU’

(yup.. kita tahu ini lagu pujian dengan judul asli “Deeper in Love” yang awalnya dipopulerkan Robert n Lea yang kayaknya.. nah yang dinaikkan pas rapat itu versi Indonesianya)

setelah bait diulang, mereka masuk ke refrain.

“lebih dalam lagi ku rindu Kau Tuhan, lebih dari segala yang ada.

lebih dalam lagi, ku cinta Kau Yesus, ku mengasihiMu”

waaaaa  T__T  jlep jlep jlep . .

sembari melipat kertas sendiri.. (di dalem ruang kecil tapi nyaman diterangi lampu, n denger pujian buat Tuhan dinaikkan di balik pintu koboi kayu :p n dipenuhi dengan perasaan yang campur aduk) rasanya pengen nangis.. hehe enggak ding.

gimana ya rasanya, pokoknya speechless aja J

selanjutnya aku cuma diem (tapi tangannya tetep gerak lipat-lipat kertas..).

yang aku maksud diam di sini adalah nggak nyanyi, no bisik-bisik, tanpa komat-kamit, dan pikiranku saat itu pun rasanya beku ringan sementara, hatiku cuti mendadak.. hening banget . .

..

-diperlengkapi-

selama beberapa detik kemudian aku fokus pada satu kosa kata tersebut, yang menjadi penanda batas lipatan kertas yang ditentukan mas Anto tadi.

-diperlengkapi-

entah sudah berapa kata “diperlengkapi” aku baca. mungkin sebanyak aku melipat kertas saat itu. tetapi jujur saja tidak setiap waktu aku memperhatikan dan meresapi benar makna kata tersebut. Cuma mampir di mata, nggak nancep di hati.

-diperlengkapi-

sebenarnya kalimat utuhnya adalah .. “diperlengkapi untuk melayani”

“seorang pekerja harus diperlengkapi untuk dapat mengerjakan tugasnya, bukan saja dengan baik, namun juga efektif.”

(itu yang tertulis di brosur katalis hehehehe..)

‘ooo..iya… ini untuk memperlengkapi para pelayan gitu hehe.. berarti aku juga, karena aku baru melipat kertas di bagian kata ‘diperlengkapi’ 😉 ‘ pikirku geli waktu itu.

tapi kemudian aku terhenyak ketika mendapati kenyataan bahwa sesungguhnya Tuhan memang sedang memperlengkapi aku.

Yang bikin aku shocked ringan adalah, tadinya aku bener-bener dengan geli bercanda menanggapi fakta bahwa aku membaca kosa kata ‘diperlengkapi’ berulang-ulang, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan ingin menekankan satu kata tersebut untukku.

dan bukankah itu juga yang ingin disampaikan kakak-kakak katalis (atas karunia Tuhan) kepada orang-orang yang menerima brosur itu?

..

selanjutnya dalam masa hening itu, aku merasa Tuhan meneguhkanku dalam beberapa hal dan memangkas cukup banyak rencana yang aku buat pada hari itu dan beberapa rencana besar hari-hari ke depan, serta mengkoreksi beberapa pilihan. Bahkan ada beberapa hal mendesak yang selama dua hari ini aku doakan secara khusus, (aku berdiam mendengarkan, namun belum memperolah jawaban) dan Tuhan tuntun aku buat mengerti pada saat itu.

Tuhan bener-bener luar biasa. punya cara tersendiri buat menjawab doaku, menegurku, menguatkanku. ..     :’)   ..    <hmmm… andai ada emoticon yang mengartikan kita nangis terharu sambil senyum, pengen aku cantumin di akhir paragraph ini hehe :p>

*hari itu Tuhan berbicara padaku melalui kertas-kertas yang aku lipat   🙂

kejutan berikutnya datang ketika aku masih melipat kertas.

Zadok Elia datang untuk the fight.. <???>

hehe, maksudnya, dia datang mencari mas Anto untuk bla bla bla yang berkaitan dengan buku yang….,  waktu itu aku belum tahu apa judulnya..n siapa penulisnya.

ketika akhirnya mereka berjumpa, pada satu waktu aku melihat mereka berdiri berhadapan, saling bertukar buku yang sama, yang cover masing-masing buku tersebut menghadap ke arahku

‘The Fight’

gleeerr… (boleh bayangin suara petir, eh jangan .. mungkin suara bell atau lonceng aja yang lembut dikit.. tapi kenyataannya waktu itu –jika boleh digambarkan mirip di komik, ya gambarannya suaranya cukup membahana, gitu, hee..)

bukan kaget karena geli tapi karena bener-bener pose mereka berdua (yang kemudian dibikin agak lebay karena ditambah dengan jabat tangan segala) menggambarkan satu bentuk kehidupan nyata dalam iman Kristen kita.

seperti saudara yang saling meneguhkan dan menguatkan ketika bersama berjuang dalam pertempuran. kemenangan dan sukacita dalam kehidupan kristiani, yang dicapai juga melalui perjuangan iman.(mulai kutip kalimat dalam buku ‘the Fight’ nih hehe)

ditambah kemudian Zadok sedikiiiiitt berbicara tentang PI di kalangan mahasiswa yang sedang gencar..

nah, tentang PI tersebut, beberapa waktu ini Tuhan mengajakku memandang dan menghadapi suatu masalah dari sisi yang berbeda.

seperti yang juga pernah disampaikan seorang penyiar Josep Pradita dalam siaran malamnya ‘worship line’ di 90.3 Sasanso Fm, bahwa doa mengubah segala sesuatu; ketika memang mungkin pada saat ini bukan sesuatu hal yang sedang kita hadapi yang Tuhan ubah, mungkin cara kita memandang sesuatu itulah yang akan diubahkan.

tentang PI, bersyukur Tuhan mengizinkanku mengalami persoalan yang kalo dipikir nalar lagi.. wah udah nggak ada harapan deh..  semua upaya yang sanggup aku lakukan tidak mampu menyelamatkan situasi n kondisi.  Rasanya sepanjang waktu itu Tuhan sengaja bongkar aku untuk membentuk aku kembali.  sempat diberi Tuhan kado yang berupa reruntuhan tembokku sendiri,  dan dikosongkan. namun semua itu mengingatkanku akan Tuhan yang berdaulat dan penuh kasih.

dalam setiap keterpurukan itulah aku belajar mempercayai Tuhan, dan setiap hal yang aku rasakan membawaku menuju titik keberserahan penuh  pada Dia.

*siang itu, setiap harapan aku akui dan serahkan di hadapan Tuhan;

dan seperti ketika aku melipat kertas-kertas ini,  aku sedang melipat harapan.

oya, beberapa menit kemudian datanglah mas Christian yang segera duduk n melipat kertas-kertas juga.. dan Zadok yang masih menunggu sesuatu, ikut duduk dan bantu lipat-lipat. hehe. jadilah acara hari itu melipat kertas bersama. hehe..

.. mungkin mereka juga sedang melipat doa, melipat harapan.

atau bahkan mungkin mereka menemukan titik makna yang berbeda dari hal itu, karena aku percaya Tuhan berbicara dengan setiap kita melalui cara yang berbeda-beda, sesuai kebutuhan kita, seperti yang Tuhan kehendaki buat Dia sampaikan, demi kemulianNya.

bersiaplah dan selamat menikmati setiap detik pengalaman bareng Tuhan Yesus yang hidup.

*bersyukur buat acara melipat kertas bareng Tuhan Yesus hari itu   🙂

 

..

hmm.. sedikit tambahan..

pulang dari GG, rasanmya pengen bangeeettt langsung pulang dan nulis ini semua, tapi beberapa keperluan lain di luar harus segera aku selesaikan. termasuk janjiku pada Ani buat pergi bareng ke konser kolaborasi musik orkestra, ansamble, choir, dance, modern n etnik.. di auditorium musik ISI.

dari kemariiinnn sebenernya sudah nggak sabar nonton konser ini. tapi serangkaian kejadian hari ini membuat keinginanku sebelumnya terkikis sekitar mungkin 30%..  :p  🙂

tapi karena sudah janji, ya akhirnya aku berangkat, bareng Ani.

bersyukur banget akhirnya tetep berangkat hehehe.. enggak nyesel pokoknya. konsernya keren bangett… keseluruhannya enggak sanggup aku tuliskan di sini, dan ini bukan yang mau aku bagikan, tapi tentang satu kejadian sederhana yang tanpa aku duga, lagi, Tuhan jadikan kejutan manis sesampainya aku dan Ani di sana.

sekitar pukul 18.30 waa, setelah beberapa saat muter-muter, akhirnya aku parkir motorku, beberapa meter dari pintu auditorium musik ISI.

beberapa pemain konser lain aku lihat duduk-duduk aja, di ruang dalam.

tapi ada satu ruang cukup terang, yang di dalamnya aku lihat seorang pemain.. violin (diiringi piano) sedang pemanasan mungkin ya…  (nah.. sekarang ayok kita sama-sama bayangin suara violin..)

lagu yang dia mainkan saat itu, “hatiku percaya”

itu lho, yang liriknya:

“saat ku tak melihat jalanMu, saat ku tak mengerti rencanaMu.

namun tetap ku pegang janjiMu, pengharapanku hanya padaMu.

hatiku percaya, hatiku percaya, hatiku percaya, selalu ku percaya”

 

permainannya…. (menurutku, yang buta musik ini) bagus bangeett..

(jadi inget permainan violinnya bang Erwin Hotma Pangihutan Pardede, seorang kakak+guru+sahabat, yang sekarang melayani di Simalungun)

permainan violin yang aku denger malam itu, jernih, dan enggak lebay. sejuk.. n simple tapi dalem.

apalagi.. kok pas banget bawain lagu itu duuhh… liriknya itu lho.. (silakan baca sendiri lirik lagu di atas tadi, aku enggak sanggup nerusin tulisan ini… T__T )   … :p  hehe, *serius*

rasanya pengen banget rekam audio saat itu juga. tapi aku tahu hasilnya pasti enggak akan bersih dan.. lagi pula belum minta izin hehe..

jadi akhirnya aku menikmati instrumen itu sambil mengucapkan (bukan menyanyikan) liriknya dalam hati.

oya, selesai maen lagu itu, sang pemain lanjut dengan pujian lain yang judulnya juga “hatiku percaya” tapi yang up beat itu lho.. beda dengan yang tadi lagunya.

yang pertama kali dipopulerkan sesaat sebelum gempa jogja (dan ternyata salah satu tujuan yang diusung penyelenggara konser malam itu ternyata refleksi gempa jogja beberapa tahun silam.  wuaaahh aku juga suka banget yang ini, sebenernya suka karena 2 kata tadi “hatiku percaya”) thanks banget mas Borist Sirait..! 🙂

beberapa jam kemudian aku tahu dia memainkan lagu ‘hatiku percaya’ karena baru ‘kangen dengan lagu itu’.

kerinduan dan penyembahan yang dia naikkan melalui permainan violin malam itu, ditunjukkan Tuhan padaku untuk membahasakan kerinduanku yang sebelumnya sudah kuperbincangkan bareng Tuhan selama melipat kertas di siang hari.

..

Tuhan sanggup memakai setiap kegelisahan hati untuk menjawab pergumulan orang lain. kerinduan terdalam dapat Tuhan ubah menjadi energi yang kuat. suka cita dan damai sejahtera yang bersumber dari Tuhan mampu Tuhan bagikan sebagai spirit bagi orang lain. pertanyaannya tinggal, apakah kita mau, melalui setiap bagian dalam keseluruhan kehidupan kita, Tuhan pakai buat memuliakan Dia?

..

bersyukur

pagi, Tuhan menyatakan kerinduan hatiNya padaku melalui kertas-kertas yang aku lipat.

n malam, Tuhan membahasakan kerinduanku padaNya melalui instrumen violin aku dengar.

..

selamat hidup, berproses.

God bless u.

terimakasih.. 🙂

05.06.2011

-ndn-

Categories: simple breath

pasien KLL

May 4, 2011 Leave a comment

akhirnya,, setelah sekian lama, aku berani juga hadapi pasien kecelakaan lalu lintas.

🙂

senin, 25 April 2010, bersama personil handal malam itu, dokter Hendra, dokter Rosa, perawat bu Lena, perawat pak Pon, dan dokter Ardi.

🙂

biasanya nih, kalo ada KLL, aku langsung ngumpet, kabur

(nb: karena memang tidak berkepentingan secara langsung juga, tidak berkompeten dan tidak berwenang)

dengan tampang cool pura-pura nggak tahu apa yang terjadi, dan atau aku tahu tapi nggak mau menangggapinya lalu menyibukkan diri sendiri.

belum pernah juga kebetulan aku kepepet harus menghadapi, kayak malam itu, statusnya sih terpaksa, tapi dampaknya sungguh di luar dugaanku.

hmm tunggu, sebelumnya aku ceritain dulu. kalo ada KLL di jalan dan aku pas di TKP nih, aku akan buru-buru kabur.

kenapa?

pertama, kalo aku nolong, nggak bisa juga kan, aku sendirian nggak akan mungkin bisa nolong.

satu-satunya cara yang efektif adalah aku ke tempat terdekat dan minta bantuan di sana. itu akan lebih membantu.

🙂

alasan ke dua adalah, aku belum pernah berani…. baik di jalan maupun ketemu di RS pun, kalo ada KLL lututku langsung lemes, tangan dingin, gemetaran, nggak tahan pokoknya… aku nggak jijik dengan darah dan atau kotoran yang mungkin ada. hal-hal semacam itu udah biasa aku temui di lab dan di ruangan pasien saat kondisi tertentu.

yang bikin aku nggak tahan sebenernya adalah pasien itu sendri, yang pastinya mengerang kesakitan dan itu bener-bener bikin nular ke aku yang seakan jadi bisa ikut merasakan sakitnya.

ini agak berbeda dengan erangan pasien atau teriakan atau tangisan saat pasien diambil darahnya. kalo dalam hal ini aku udah biasa hadapi dan aku tahu betul bagaimana rasanya diambil darah. jadi nggak masalah lah…. Cuma sakit sedikit, bahkan melalui rasa sakit (saat diambil darahnya) inilah seorang pasien mendapat jalan dalam proses pemulihan, jadi kalau dalam hal ini aku nggak pernah khawatir, dan selalu melakukannya tidak dengan takut, bahkan percaya diri (jujur, ini aku pelajari saat di RS Bethesda hehe).

tapi kalo rasa sakit yang seperti luka aneh-aneh, kesakitan waktu mau melahirkan? aaahhhh aku nggak tahan, selalu kabur jauh-jauh.

bahkan jika pasiennya pingsan pun, untuk kll fresh aku tetep nggak berani hadapi, karena gambaran yang aku lihat seakan tertransfer ke otakku dan menerjemahkan ke tubuhku dengan bahasa rasa sakit, duuuhhh…

🙂

oya, sebelumnya aku jelaskan juga yang aku maksud dengan kll fresh adalah, korban kecelakaan lalu lintas yang masih baruuuuu aja, dan belum dibersihkan diberesin, masih acak adul belepotan, berlumuran darah. karena kalo korban kll yang udah bersih, tinggal nunggu operasi misalnya, dan Cuma mengerang sedikit-sedikit, itu aku berani-berani aja hadapi, di bethesda sering kok…

🙂

dari dulu udah mikir juga sih.. masak ya aku takut, padahal kan aku petugas rumah sakit juga.. mau sampai kapan begini?

wah ini nggak bisa dibiarkan, harus diubah ini, harus belajar berani, mind set’nya juga harus ditata ulang, tapi gimana caranya??

hmm…memang deh, Tuhan selalu punya cara, yang jauh melampaui apa yang diapat kita pikirkan dan bayangkan.

transformasi tengah terjadi hee…

🙂

akhirnya malam itu dengan status kepepet bin terpaksa,aku hadapi juga pasien kll.

dengan kondisi yang aku sendiri juga bingung gimana jelasinnya, aku disuruh sampling buat cek darah lengkap. duuuuhhhh….

cklek,,

pintu IGD aku buka, daaan aku cuma berdiri terpaku agak lama di sana…

wuuzzz kayak di film-film aja ya,, lebay haha..

tapi memang begitulah kenyataannya. aku shocked… liat keadaan pasien dan temen2 IGD..dr Hendra n dr Rosa baru sibuk jahit tangan dibantu pak Pon, lalu bu Lena dibantu dr Ardi baru sibuk jahit kaki. intinya adalah, aku ambil darah dari vena di kaki.

dokter Ardi yang tepat di samping kiriku bantuin pegang kaki, n akhirnya dengan gemetaran berhasil juga aku ambil darahnya. horeeee… thanx God heheheh.

hasil yang udah jadi aku anter lagi ke IGD dan saat itulah tanpa ku sangka juga sebelumnya, aku menawarkan diri buat bantuin pegangin senter yang tadinya dipegangpak Pon buat menerangi bu Lena yang jahit bareng drArdi. hehehe..

ternyata nggak seseram yang dibayangkan ya.

🙂

facing your giant nggak sekedar judul buku yang aku baca, tapi bener-bener bekal.

ternyata kalo kita bernani berusaha kalahkan rasa takut, Tuhan pasti mampukan kita untuk lalui kok, akhirnya yang terjadi nggak seseram yang dibayangin. memang, hantu itu bernama prasangka.

ini pernah aku alami juga waktu menyudahi perasaan aneh dengan seseorang yang ternyata sudah berpasangan. awalnya terasa sangat nggak mungkin, berat dan menyakitkan.

tapi bersyukur ketika masa terberat itu Tuhan menopang n memelukku, lalu ketika aku ambil komitmen kembali ke jalan yang bikin Tuhan berkenan dan senang, dan aku terapkan, ternyata tidak seberat yang dibayangkan. bahkan sangat lega rasanya.

🙂

aku bersyukur buat pemeliharaan Tuhan sepanjang hidupku, dalam setiap proses aku bertumbuh dalam pengambilan keputusan.

Dia menuntun dan memimpinku ke jalanNya. dan aku bersyukur buat setiap pemangkasan yang Dia lakukan terhadap tiap hal dalam diriku yang tidak berkenan di hadapanNya, baik itu karakter, kebiasaan. meski pada saat dipangkas rasanya sakit, tapi itu sangat bermanfaat dan indah rasanya kemudian. berbuah bagi kemuliaan Tuhan.

🙂

akhir kata, ada pesan sponsor nih 😉

hati-hati di jalan,

patuhi rambu-rambulalu lintas,

dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

🙂

Thanks GOD..

Categories: simple breath

anggi

May 4, 2011 Leave a comment

..

Entah, siapa nama lengkapnya. aku hanya ingat kami menyebutnya dengan nama depan, Anggi.

Dia seorang laki-laki bertubuh jangkung, dengan warna kulit terang, dan potongan rambut cepak.

Usianya 19 tahun pada saat itu, dan.. 21 tahun seandainya saat ini dia masih hidup.

..

Sebelumnya, aku ingin sedikit bercerita bahwa aku cukup sering menonton berbagai macam jenis film, tidak ketinggalan juga film tentang peperangan dari segala masa.

Dalam adegan-adegan yang tidak lepas dari darah, aku cukup mendapat beragam versi gambaran orang-orang yang menjelang ajalnya masih berupaya untuk mempertahankan nyawa demi hal apapun itu (tergantung filmnya)

Sebenarnya di film romance pun ada, apalagi film misteri, dll dst.. hehe cukup ya ngomongin filmnya .. Ini catatan pertama.

..

Catatan kedua yang mau aku ceritakan sebelum kita masuk ke materi adalah ..

(halah..bahasanya ;p) tentang pengalamanku selama bekerja di RS dan bergaul selama aku hidup sampai saat ini.

Bukan hal yang langka jika ending dari sebuah kisah bertema luka dan sakit parah atau usia senja, adalah kematian.

Sebagian dari pihak-pihak terkait tentu sudah ada persiapan mental juga ketika menghadapi gejala hal-hal yang tidak inginkan namun terkadang harus terjadi pada waktu yang tidak pernah kita bayangkan dan rencanakan.

Yang paling sering aku lihat menjelang ending dari seseorang adalah respon keluarga dan keheningan pasien itu sendiri (yang pada saat kita temui biasanya tidak kita sangka-sangka akan pergi, memang).

..

Namun sore itu aku mendapati kisah yang berbeda, ketika aku bertemu dengan Anggi.

..

suatu sore di RS tercinta, ruang sampling darurat, laboratorium.

aku menuju ruang sampling darurat di laborartorium. sesosok tubuh sudah menantiku di atas bed di ruas jalan ruang sampling darurat.

Dia terbaring miring, dan bernapas dengan berat..

Pemeriksaan darah lengkap dan pemeriksaan darah kimia, adalah permintaan pemeriksaan yang tertera dalam blanko, kiriman dari dokter IGD.

aku melihat infus sudah terpasang di tangan kirinya. ‘kenapa nggak sekalian diambil di IGD ya tadi’, pikirku saat itu.

Biasanya dalam sekali tusuk, pasien akan diambil darahnya dari vena untuk selanjutnya diganti dengan peralatan infus, jadi pasien hanya akan satu kali saja ditusuk.

Kemudian sample darah yang akan diperiksa dikirim ke laboratorium dengan diluncurkan dan atau ditembakkan melalui peralon aerocom.

“tadi nggak dapet mbak, darahnya nggak mau keluar” ucap perawat yang mengantar, tepat sekali menjawab pertanyaan yang bergaung di benakku

(mungkin gaungnya kenceng ya kok dia bisa sampe ikut denger…).

dan akhirnya aku merasakan apa yang baru saja dikatakan perawat tersebut. vena besar, terlihat dan teraba sangat jelas, namun darah tidak juga mau keluar, akhirnya dalam posisi tangan masih terikat tali pembendung (torniquette), aku sengaja mencabut jarum suntik dari tangannya, dan dari bekas tusukan tersebut tidak ada satu titik pun darah yang keluar..

mba Erna, seniorku, akhirnya turun tangan.

dia membendung tangan Anggi dalam waktu yang cukup lama, dan sesaat memukul-mukul tangan Anggi perlahan.

lalu mencoba kembali menusukkan jarum setelah sebelumnya dia mencoba sekali namun tidak juga memperoleh hasil.

..

saat itulah aku melihat Anggi yang sejak tadi terbaring miring dan masih bernapas dengan berat, berusaha keras mengepalkan tangannya, berupaya agar darah dalam tangannya terkumpul dan dapat diambil untuk pemeriksaan laboratorium.

..

usahanya sia-sia, karena tangannya tidak juga terkepal..

aku mulai menyadari betapa lemas dan tidak berdayanya dia.

namun saat itu rupanya tak berlangsung lama karena kemudian aku mendengar para perawat tertawa lega ketika mba Erna berhasil memperoleh darah, meskipun kurang dari 2 cc.

..

dari seorang teman lab yang ternyata juga mengenal Anggi, aku ketahui bahwa Anggi ternyata anak rantau yang tinggal di jogja bersama pakdenya.

sebulan yang lalu dia menjalani operasi usus buntu di RS XYZ, lalu pulang dan selama sebulan kondisinya tidak membaik.

meskipun tidak dapat makan dengan baik Anggi tetap tidak mau dibawa ke RS. hingga akhirnya sore itu Anggi dibawa ke RS tempat aku bekerja, setelah paginya dia meminta pakdenya untuk membawanya ke RS.

..

malam itu aku lega karena Anggi telah berada dalam perawatan di RS yang mantap itu.. dan terkhusus lega karena hasil darahnya tidak mengindikasikan sesuatu yang buruk, hanya menunjukkan sedikit peningkatan lekosit saja.

..

pagi harinya, karena penasaran, aku mencoba memantau riwayat hasil pemeriksaan Anggi dari komputer lab.

namun sebelum aku sempat mengetikkan nomor rekam medisnya, rekan lab yang juga adalah tetangga Anggi, memberi tahu aku bahwa Anggi telah ‘pulang’, tadi malam, tidak berselang lama setelah darahnya diambil di laboratorium.

..

speechless..

..

baru kemudian siang harinya aku menyesalkan keterlambatan mereka membawa Anggi ke RS, dan tindak lanjut yang entah bagaimana di RS sebelumnya.

aku tidak menuduh apapun pada pihak manapun, aku hanya menyesalkan mengapa hal semacam itu bisa terjadi, tanpa tahu pasti juga apa memang ada yang harus disesali dengan pantas.

karena aku sungguh-sungguh tidak tahu peristiwa yang melatar belakangi dan hal-hal yang mempengaruhi. aku bahkan tidak punya hak untuk menduga dan dasar untuk menganalisa, jadi aku cuma uring-uringan sendiri, dan sesaat melupakan, bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. dan bagi Anggi, itu adalah waktu baginya, sekalipun mungkin jika diizinkan memilih, itu bukanlah cara yang diinginkan, namun inilah yang terjadi.

..

sudah dua tahun berlalu sejak peristiwa itu. aku tidak mengingat bagaimana wajah Anggi.

namun terkadang masih terbayang bagaimana ekspresinya pada saat aku dan mba Erna berusaha mengambil darah dari vena tangannya.

..

aku masih ingat betul bagaimana dia berusaha mengepalkan tangan kanannya, membantu proses pengambilan darah.

dari situlah aku merasakan perjuangan dia untuk dapat hidup.

..

melebihi segala adegan berdarah yang aku lihat dalam film perang, ataupun upaya mengharu biru dari para keluarga pasien yang tidak rela melepas kepergian salah seorang anggota keluarga yang sudah tidak mampu lagi bertahan.

Anggi di hadapanku, terbaring lemah dengan napas berat, berusaha mengepalkan tangannya.

satu bentuk upaya mengepalkan tangan yang cukup sederhana tampaknya, namun menjadi gambaran nyata bagaimana seseorang berjuang untuk hidup..

..

betapa ini menyentakkanku..

seremeh temeh apapun tampaknya sesuatu hal, bisa menjadi amat berarti dalam tiap proses.

seringkali kita menyia-nyiakannya karena menanti segala dampak yang membahana.

mengabaikan denting kecil yang menyapa, masuk melalui pori-pori jiwa.

..

kisah Anggi dipakai Tuhan, menuntunku untuk berdiam dan merenungkan kembali mengapa Tuhan menaruhku pada profesi ini.

mengapa Dia ingin aku melayani pada bidang ini.

sungguhkah ini bagian yang dipecayakan padaku untuk aku kerjakan..

..

melalui sepenggal kisah di masa lalu ini aku belajar dari Anggi ketika dia berusaha mengepalkan tangannya di saat terakhir

yang ingin aku garis bawahi di sini, bukan tentang bagaimana kita mempertahankan nyawa yang merupakan hal fana dalam dunia.

bukan, bukan itu.

tapi tentang bagaimana hingga keseluruhan daya seakan tidak lagi bersisa, kita mau berusaha, berjuang, dan berproses di dalamnya.

bukan sekedar demi hidup kita, tapi juga demi hidup orang lain, dan sumber kehidupan itu sendiri, sang pemberi hidup yang hidup.

..

selamat jalan, Anggi. terimakasih..

Categories: simple breath

catatan kamis putih 2011

April 21, 2011 Leave a comment

ndin..

apapun ketakutan terbesarmu,

bawa pada Tuhan Yesus.

<jangan kehendakku yang jadi, tapi kehendakMu jadilah>

met menuju getsemani..

alone with God.

Categories: simple breath

kalo judulnya ‘dompet dan isinya’, cocok apa nggak ya?? 

April 19, 2011 2 comments

#

senin, 11April 2011 malam,,

dalam siarannya bareng partner baru, mas Pepep sedikit sharing tentang kisahnya hari itu, yang kehilangan dompet selama beberapa jam, yang kemudian ditemukan sendiri oleh temannya, dan ternyata hilangnya yah cuma disekitar situ aja..

bagian yang mau dia bagikan adalah tentang bagaimana rasa syukurnya ketika mendapati dirinya diingatkan tentang karunia yang udah boleh dia rasakan melalui dompet dan segala macam kartu penting di dalamnya.

waktu itu aku cuma komentar dalam hati,, ‘kok bisa to ya dompet sampe ilang di sekitar ..’ (dalam arti bukan jatuh atau dicopet)

hmmmm….

#

sabtu, 16 April 2011 siang,,

dalam perjalanan menuju tempat kerja, di daerah gejayan (dalam ranah ring road) ada razia sim n stnk. Dengan tenang dan bangga aku melewati itu semua, n bahkan ketagihan kena razia lagi, karena aku yakin (yup, saat itu aku dengan sombong meski dalam hati, merasa yakin aku bakal selalu lolos).

hmmmmm….

#

minggu, 17 April 2011 pagi,,

aku terima smash dari mas Pepep tentang judul buku yang dia sarankan untuk dibaca orang lain pada waktu ini, “don’t waste your life” by John Piper..

#

kenapa aku tulis potongan 3 kejadian tadi???

coz Senin, 18 April 2011, Tuhan mengingatkan aku tentang beberapa hal yang berkatian dengan itu semua.

aku merasakan dituntun menuju pengenalan yang makin dalam melalui serangkaian tahap.

senin pagi kemarin aku pijak dengan sangat terburu-buru, namun aku selalu menyempatkan diri untuk memastikan telah memasukkan barang2 penting ke dalam tas.

sleman – prambanan adalah rute rutin dan utama pagi itu…

dilanjut dengan rute siang – sore – malem yang sama sekali belum pernah aku tahu.

bareng 19 temen2 prajabatan, kami ke daerah klaten buat menghadiri pernikahan salah seorang temen prajab. nah.. itulah perjalanan terjauhku yang pertama (nyetir motor sendiri). pulangnya mampir ke rumah salah seorang temen prajab juga. dan balik dari sana sekitar setengah tujuh malam.

seperti yang udah aku rencanakan sebelumnya, kalo ngga terlalu malam, aku mau mampir TPK (toko buku di depan UKDW) buat beli buku yang disarankan mas Pepep kemarin.

aku pun meluncur ke arah TPK dengan perasaan lega dan puas.

betapa ‘sempurna’nya hari itu.

seru banget menempuh perjalanan jauh n menyenangkan, reuni bareng temen2, plus aku membayangkan ntar malam bakan kirim sms onLine ke radio pas mas Pepep siaran, dan aku akan kutip kalimat dari buku John Piper, sebagai bukti bahwa aku udah mau baca buku yang dia sarankan.

akhirnya sampe juga aku di TPK, n langsung ke arah mas2 yang menghadap komputer.. aku tanya judul buku yang aku maksud, dan ternyata masih ada 1 buku tersisa. horeee…!!!

waktu dicari di rak buku yang tertera di komputer, ngga ketemu lamaaaa bangettt.. akhirnya aku putuskan buat bantu cari setelah titipkan tas.

sebelum tas aku titipkan, seperti biasa aku selalu ambil hape, kunci motor, n dompet.

tapi waktu aku cari dompet….. dompet? d-o-m-p-e-t… ? ngga ada..!

setelah konfirmasi ke temen RS n ibu di rumah, aku pun dapet jawaban kalo ternyata dompet ietmku tertinggal di atas tempat tidurku….

….andiiiiiiinnnnnn!!!

akhirnya aku pulang setelah sebelumnya memesan buku yang aku maksud tadi,, bener2 memohon sama mas yang jaga biar buku itu nggak dijual ke orang lain coz mau aku beli keesokan harinya,,, hmmm maluuuu haha

silly ya.. kalo dipikir lagi aneh banget itu terjadi…

aneh banget aku bisa lupa bawa dompet, yang isinya sim, stnk, ktp, k’atm, uang, dll,.. dan aku Cuma bawa uang 20 ribu di kantong buat beli bensin. padahal ini perjalanan terjauh yang pernah aku tempuh. pake mampir toko buku pula, haduuuuhhh andin andin…

sekarang ngerti kan kalo andin nggak boleh bermegah atas segala hal yang tampak baik yang Tuhan anugerahkan pada diri andin… iya.. semua kan hanya oleh kasih karunia andin bisa menikmati semua ini. bukan karena kuatdan hebatku, dan itu pun bukan hanya buat andin, coz hidupku bukan buat diriku sendiri.

aku bersyukur hari itu Tuhan kasih teguran ke aku.

btw, sementara kisah ini aku tulis, aku sedang dalam rencana mau ke TPK buat beli buku yang kemarin, sebelum menuju tempat kerja.

ada banyak tanya,,

apa dalam perjalanan nanti ada razia?

buku itu bakal dijual atau masih disimpen buat aku?

entah apa yang akan terjadi nanti.

semua hal yang terjadi boleh sama atau pun berbeda, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita berproses di dalamnya, apakah setiap peristiwa tersebut membawa kita makin mengenal Tuhan dan melalui tiap hal itu kita memenuhi panggilan kita? mengerjakan bagian yang telah dipercayakan pada kita dengan taat dan setia? buat kemuliaanNya..

ketika aku mengingat kembali kejadian simple yang sempat bikin deg-degan ini, betapa aku bersyukur buat tiap kesempatan baru yang Tuhan izinkan buat aku pergumulkan, rasakan, dan hidupi.

dalam setiap bagian dan kondisi hidup yang aku alami, aku tahu dan percaya Dia selalu ada di sana..

Thanks God..

GBU all =)

*yang pasti, jangan lupa bawa dompet yaaa.. hehe  😉

Categories: simple breath

my prayer

April 19, 2011 Leave a comment

Lord,

i pray for a man, that will be part of my life

a man that really loves You more than everything

a man that will put me in the second place of his heart

a man that lives not for him self but for You

the most important is

i want a heart that really loves and thirsthy of You

and have a desire to be like Jesus

and he must know for whom and for what he lives, so his life is not useless

someone that has a wise heart, not only a smart brain

a man that not only loves me, but also respect me

a man that not only adores me, but can wan me warn me when i am wrong

a man that loves me not because of my beauty, but my heart

a man that can be my best friend in every situation

a man that make me feel like a woman when i am beside him

i do not ask for a perfect man

but i ask for imperfect man

a man that needs my support for his strength

a man that needs my prayer for his life

a man that needs my smile to cover his sadness

a man that needs my love so he feels being loved

a man that needs me to make his life beautiful

and i also ask

make me be a woman that can make him proud

give me a heart that really loves You, so i can love him with Your love, not love him with my love

give me Your gentle spirit, so my beauty does not come from my outside but comes from You

give me Your hands, that i always be able to pray for him

give me Your eyes, so i can see many good things in him, and not the bad one

give me Your mouth that is filled with Your words of wisdom and encouragement so i can support him everyday

give me Your lips, and i will smile at him every morning

and i want that when we finally meet

both of us can say

how great Thou Art

i know that You want us to meet at the right time

and You will make everything beautiful in Your time

Amen.

by: Grace Suryani <from: the Puzzle of Teenage Life n Tuhan Masih menulis Cerita Cinta>

Categories: simple breath